He is an oil, and I’m water
Mei 16, 2012 at 7:48 PM , by elelmi
Sepertinya, secuil asa yang selalu ku harap ada padamu kini pupus entah dimana.
Mungkin, he is an oil and I’m water.
Terlalu perih kah jika memimpikanmu hanya sebuah angan?
Apakah hanya dia yang memiliki “nya” yang pantas bersanding denganmu?
Bisakah aku berandai, sebuah mimpi bisa dipilih seperti CD?
Ya, aku mengharapkannya.
Kamu adalah cover pertama yang akan aku cari.
Kau tahu? Realita apa yang paling menyebalkan dalam diriku?
Aku tidak tahu seperti apa kau menganggapku sampai saat ini.
Aku juga tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan rasa ini
Tapi, setidaknya ada satu hal yang membuatku tahu apa arti kesederhanaan.
Keterbatasanmu.
Dan, apa kau tahu siapa aku?
Aku, adalah orang yang menyukaimu.
Happy Anniversary 16th, Sheila On 7!
Mei 7, 2012 at 4:46 PM , by elelmi
“Ingat kembali yang terjadi
Tiap langkah yang kita pilih”
Bukan berarti gak mau move on, tapi melihat ke belakang itu penting biar kita tahu siapa kita sebelumnya. Seperti halnya lirik “Disini ku menggenggam takdir di tanganku”. Takdir ada di tangan kita. Kita yang memilih, kita yang melakukan, dan kita pula yang mendapatkan. Dan jangan pernah mudah puas dengan apa yang kita miliki sekarang.
Hah… (bacanya jangan huft ya -..-) Sheila On 7 emang bener-bener band yang, gimana yak… Mereka bisa ngungkapin isi lagu tanpa harus memakai lirik yang puitis dan terlalu metafora buat ditangkap. Bahkan “Aha, yeah. Aha, yeah. Begitu para rapper coba menghiburku.”-nya Pemuja Rahasia yang sederhana terdengar enak buat didengerin. Dari beberapa album yang udah dibuat, paling suka album pertama-ketiga. Sheila On 7 adalah alasan kenapa masa SD perlu dikenang. Tsaaah… #gayaluel
Read more
Balada TwitFreak
April 21, 2012 at 12:37 PM , by elelmi
Iya, si @jojosuherman emang suka banget sama film Back To The Future, dan ini emang salah satu alasan kenapa aku follow akun dia
karena tiap aku buka timeline-nya sebelum jadi followers dia, dia sering bahas hal-hal di film ini. Okelah, stalking -_-
Read more
Kenangan SMA dulu? Ehm…
April 16, 2012 at 12:59 AM , by elelmi
“Detik. Satuan waktu yang tak terasa prosesnya, tapi terasa kenangan yang ditinggalkannya.”
Kalimat ini langsung muncul tadi maghrib waktu aku dan Silvi lagi sharing uneg-uneg UN jaman kita SMA tahun kemarin. Kita cuma cerita seru-seruan, apa aja yang terjadi dan kita lakuin selama pra dan pasca UN yang berlangsung selama 4 hari. Dan pembicaraan kita berlanjut ke temen-temen sekolah kita yang udah kerja, punya keluarga kecil, dan ada beberapa diantaranya yang nggak ngapa-ngapain.
Saking antusiasnya kita cerita, ini membuatku sadar bahwa sebenarnya apa yang kita lakukan dulu masih terkenang dan tertata rapi dalam benak. Jaman sekolah dulu memang momen-momen yang sangat menyenangkan. Aktivitas rutin yang dilakukan semasa sekolah itulah yang sangat mengena kalo ditanya apa yang menyenangkan saat di sekolah. Pernah sih aku berkhayal besok bangun pagi, pake seragam sekolah lalu berangkat ke sekolah… SMA! Hahaha… Kalau ditanya detailnya apa yang dikangenin waktu SMA, sebenarnya bukan belajarnya, tapi isinya itu. Persahabatan, guru, kantin, aula sekolah, dan masih banyak lagi. Paling terasa itu kenangan pas UN. Sungguh hampir tiap hari belajar bareng sama temen-temen seperjuangan hampir 2 minggu. Kangen banget masa itu.
Oh ya, sempet ngakak juga baca tweet dari @muhadkly waktu itu yang bilang, “Upacara hari senin jaman sekolah adalah ajang curi-curi pandang. Manfaatkanlah wahai generai muda!” ada-ada aja comic yang satu ini… Tapi bener juga sih. ![]()
Buat kalian yang beruntung masih bisa ngerasain gimana asiknya sekolah, keluarin semua keinginan yang ada dan jangan pedulikan apa yang mereka katakan. Tunjukkan dirimu karena disinilah tempat yang pas buat kamu berbuat sesuatu yang nantinya bakal kamu kenang nanti.
Hari yang Sayu…
April 1, 2012 at 8:07 AM , by elelmi
Pembicaraan bermula saat aku makan nasi kotak berisi nasi rames, lalu tiba-tiba memori saat aku masih sekolah kemarin. Dengan masih dalam posisi makan, aku mengingat semuanya yang aku lakukan semasa itu. Yang paling kentara adalah sepiring kecil nasi kuning yang bisa terbeli hanya dengan 300 perak dari sakuku waktu itu.
“Bu, sakuku dulu waktu sekolah berapa, ya?”
Ibu yang tadi lewat dengan menenteng pakaian menjawab, “Lupa, nduk. Sekitar 6000-an mungkin (4000 untuk transport). Pas kapan?”
“Padahal jaman SD dulu cuma 500 perak, sudah bisa buat sarapan di sekolah.” jawabku dengan tertawa.
“Ya, sudah berbeda jaman sekarang dan dulu. Sekolah butuh biaya yang tidak sedikit. Makanya belajar yang rajin biar uangnya tidak terbuang sia-sia.”
Mendengar itu, aku semakin melahap makananku
“Diomongi sing ngandel to… Heh, jangan cepat-cepat, nanti tersedak!” pintanya.
Maaf, bu. Bukan maksudku mengabaikan ucapanmu, apalagi kalimat terakhirmu. Justru aku sangat peduli, tapi aku tidak mau memikirkannya. Meski aku sadar. Semakin aku lahap makan, semakin aku mencoba menyembunyikannya, itu hanya akan membawanya ke permukaan. Segalanya butuh uang, aku seperti ini pun juga karena uang. Aku tidak ingin membuat semuanya terbuang. Setiap kali aku mengingat hal ini, mataku selalu sembap, dan aku tidak ingin dia melihatnya.
Dari ucapan ibu barusan, kalimat terakhirmu itu terdengar begitu…








