Hari yang Sayu…

1 Apr 2012

Pembicaraan bermula saat aku makan nasi kotak berisi nasi rames, lalu tiba-tiba memori saat aku masih sekolah kemarin. Dengan masih dalam posisi makan, aku mengingat semuanya yang aku lakukan semasa itu. Yang paling kentara adalah sepiring kecil nasi kuning yang bisa terbeli hanya dengan 300 perak dari sakuku waktu itu.
“Bu, sakuku dulu waktu sekolah berapa, ya?”
Ibu yang tadi lewat dengan menenteng pakaian menjawab, “Lupa, nduk. Sekitar 6000-an mungkin (4000 untuk transport). Pas kapan?”
“Padahal jaman SD dulu cuma 500 perak, sudah bisa buat sarapan di sekolah.” jawabku dengan tertawa.
“Ya, sudah berbeda jaman sekarang dan dulu. Sekolah butuh biaya yang tidak sedikit. Makanya belajar yang rajin biar uangnya tidak terbuang sia-sia.”
Mendengar itu, aku semakin melahap makananku
Diomongi sing ngandel to… Heh, jangan cepat-cepat, nanti tersedak!” pintanya.
Maaf, bu. Bukan maksudku mengabaikan ucapanmu, apalagi kalimat terakhirmu. Justru aku sangat peduli, tapi aku tidak mau memikirkannya. Meski aku sadar. Semakin aku lahap makan, semakin aku mencoba menyembunyikannya, itu hanya akan membawanya ke permukaan. Segalanya butuh uang, aku seperti ini pun juga karena uang. Aku tidak ingin membuat semuanya terbuang. Setiap kali aku mengingat hal ini, mataku selalu sembap, dan aku tidak ingin dia melihatnya.
Dari ucapan ibu barusan, kalimat terakhirmu itu terdengar begitu…


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post